Destinasi Wisata

Alam

image

BERWISATA KE PULAU ROON DI KABUPATEN TELUK WONDAMA


BERWISATA KE PULAU ROON DI KABUPATEN TELUK WONDAMA

Roon adalah sebuah pulau besar di Kabupaten Teluk Wondama. Ini adalah daerah tujuan yang penting bagi wisatawan pencinta alam bahari. Pulau Roon memiliki pemandangan yang indah baik di darat maupun di laut. Kampung-kampung yang ada di Pulau Roon antara lain: Indai, Syabes, Yende, Mena, Niap, Menarbu, dan Sariay. Ibu kota Distrik Roon adalah Yende.

Jumlah Penduduk
Dengan luas 1.890 kilometer persegi atau sekitar 12.64% persen wilayah Kabupaten Wondama, Distrik Roon memiliki populasi sebesar 1.963 orang. Kebanyakan bekerja sebagai nelayan dengan produksi tangkapan tahunan sebesar 1.200 ton ikan. (Sumber: Kabupaten Teluk Wondama Dalam Angka 2021).

Pulau Roon dan Taman Nasional Teluk Cendrawasih
Pulau Roon sendiri termasuk dalam kawasan Taman Nasional Teluk Cendrawasih. Kawasan taman nasional ini luasnya mencapai 1,5 juta hektar. Ini menjadikannya sebagai taman nasional bahari terbesar di Indonesia. Menurut buku Diving Indonesia's Bird's Head Seascape, di Teluk Cendrawasih ada 962 spesies ikan reef, 469 spesies karang keras dan 39 spesies udang mantis. Teluk Cendrawasih, bersama-sama dengan Raja Ampat dan Teluk Triton di Kaimana, memiliki keanekaragaman hayati bahari yang tertinggi di dunia. 
Posisi Kepulauan Roon yang berada di tengah-tengah taman nasional tersebut menjadikannya sebagai kawasan yang penting karena memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi baik di laut maupun di darat. Wisata alam yang ramah lingkungan menjadi salah satu cara untuk meningkatkan pendapatan masyarakat lokal dengan tetap melestarikan lingkungan di sekitar mereka. 

Sejarah Pekabaran Injil
Selain kaya dengan flora dan fauna, Pulau Roon memiliki sejarah yang menarik khususnya bagi karya pekabaran Injil di Tanah Papua. Menurut Dr. F.C. Kamma, pada hal. 7 - 8 bukunya: Ajaib di Mata Kita III, di tahun 1866, R. Beyer tinggal di Roon tetapi ia tidak bertahan. Dalam tahun 1878, Jens melakukan kunjungan ke sana: "Di antara semua orang Irian yang pernah saya lihat, orang Roonlah yang memberikan kesan paling baik, baik mengenai bangun tubuhnya, maupun mengenai daya pikirnya.
Bink dan Van Balen tiba di Roon pada tanggal 2 April 1884. Mereka telah membawa serta 16 orang tebusan yang dengan segera merupakan inti pengunjung kebaktian. Mereka membangun gereja dan menamakannya Isna Jedi. Gereja tua ini masih berdiri sampai sekarang.

Daya Tarik Wisata
Pulau Roon sendiri dikelilingi 15 pulau yang lebih kecil. Roon dan pulau-pulau itu memiliki terumbu karang yang menjadi habitat alami berbagai jenis hewan laut termasuk ratusan spesies karang keras (hard corals), karang lunak (soft corals), barracuda, ikan kupu-kupu hidung panjang (long-nosed butterflyfish), surgeonfish, bobara raksasa (giant trevally), fusilier, gurita belang coklat (wunderpus octopus), kipas laut (sea fans), penyu hijau (green turtle), penyu sisik (hawksbill turtle), belut pita, cumi, udang, kepiting, kima, dan masih banyak lagi.
Ini adalah atraksi alam yang penting bagi wisatawan yang suka dengan aktivitas renang dan snorkeling serta selam scuba.
Saat ini belum ada dive center di Pulau Roon.
Oleh karena itu, wisatawan perlu membawa peralatan sendiri seperti kacamata selam (mask), pipa napas (snorkel) dan kaki bebek (fins) agar bisa berenang dengan mudah dan gampang menikmati keindahan bawah laut yang ada di sana. 
Pulau Roon yang besar dan masih ditutupi oleh hutan hujan tropis merupakan habitat alami bagi berbagai spesies flora dan fauna. Wisatawan yang suka menjelajah hutan bisa berjalan mendaki kawasan perbukitan hingga tembus di sisi lain dari Pulau Roon. Burung-burung seperti Elang Laut Perut Putih, Kakaktua Raja, Kakaktua Jambul Kuning, Taun-taun, Nuri Bayan, Kasturi Kepala Hitam bisa dilihat di sana. Ada juga kuskus, soa-soa, tikus tanah serta berbagai jenis kumbang dan kupu-kupu yang mendiami hutan di Pulau Roon. 

Akomodasi dan Interaksi dengan Warga Setempat
Ada pondok-pondok wisata (homestay) sebagai akomodasi sederhana di kampung-kampung sepanjang pesisir Pulau Roon.
Selama menginap di sana, para wisatawan bisa berinteraksi dengan warga setempat, dengan melihat atau bahkan mencoba bersama-sama bagaimana mencari ikan di malam hari (balobe), menjaring atau memancing ikan di laut. Kadang kala hasil tangkapan berlebih sehingga warga mengawetkannya dalam bentuk ikan asar atau ikan asin.
Makanan pokok masyarakat di Teluk Wondama adalah sagu dan umbi-umbian. Sagu biasanya dimasak menjadi papeda yang kemudian biasanya dinikmati dengan sup ikan kuah kuning. Sagu juga gurih rasanya jika dibakar dan dimakan dengan ikan atau kepiting bakar di pagi hari.
Akomodasi yang terpisah tersedia juga di Pulau Rariyau. Di sana ada 3 buah bungalow yang bisa menjadi tempat menginap bagi wisatawan yang suka dengan alam bahari. 
Hingga saat ini, belum ada pusat perbelanjaan seperti supermarket atau minimarket di kampung-kampung yang ada di Pulau Roon. Oleh karena itu, wisatawan yang hendak berlibur ke sana hendaknya membeli perbekalan seperti beras, biskuit, mie instan, air mineral, baterai senter, sun-block lotion, krim anti nyamuk, perlengkapan P3K dari kota Manokwari atau Wasior. 

Kontak
Jika Anda tertarik untuk berlibur di Kabupaten Teluk Wondama dan khususnya ke Pulau Roon serta membutuhkan informasi lebih lanjut, silahkan menghubungi Kepala Seksi Promosi Dinas Pariwisata Kabupaten Teluk Wondama Bpk. Eki lewat nomor +62 812-4893-1154 (WA) atau 
Dewan Pimpinan Cabang Himpunan Pramuwisata Indonesia Cabang Wondama:
Ketua : Rio: +62 821-9869-4761
Sekretaris: Amsal: +62 821-9793-7120.

Bagaimana Ke Pulau Roon
Wisatawan perlu terbang terlebih dahulu ke kota Manokwari (ibu kota Provinsi Papua Barat). Setiap hari ada penerbangan reguler dari kota-kota besar utama di Indonesia ke Manokwari yang dilayani oleh Lion Air, Batik, dan Sriwijaya. 
Setelah itu para wisatawan bisa terbang ke kota Wasior menggunakan Pesawat Cessna Caravan 208 berkapasitas 10 orang yang dioperasikan oleh Susi Air. Tiket bisa dibeli di bandara setiap hari kerja.  Penerbangan Wasior - Manokwari tersedia beberapa kali dalam seminggu.
Dari kota Wasior, wisatawan memerlukan waktu sekitar 1,5 sampai 2 jam perjalanan dengan speedboat ke Kampung Yende tergantung ukuran mesin, boat dan jumlah penumpang serta muatannya.
Untuk cara yang lebih praktis dan murah, wisatawan bisa langsung pergi ke Pulau Roon dengan kapal cepat. Jadualnya adalah 2 × seminggu dari kota  Manokwari menuju Kampung Yende lalu lanjut ke Wasior. Jadual kapal bisa dicek di Pelabuhan Anggrem, kota Manokwari atau di Pelabuhan Wasior.
Transportasi laut antara Manokwari (ibukota Provinsi Papua Barat) dan Wasior tersedia hingga beberapa kali setiap minggu baik dengan kapal cepat maupun kapal penumpang biasa yang berangkat di sore hari dan tiba di Wasior besok paginya.
Selain jalur laut dan udara, Manokwari dan Wasior telah terhubung lewat jalan darat. Namun demikian, karena ketersediaan layanan transportasi laut dan udara yang lancar, hal tersebut menyebabkan sebagian besar masyarakat lebih memilih menggunakan kapal maupun pesawat.  ditulis oleh Charles Roring